Menu

Mode Gelap

Opini · 15 Mei 2022 08:25 WIT ·

# 2024 Ganti Walikota


 Ilustrasi : # 2024 Ganti Walikota Perbesar

Ilustrasi : # 2024 Ganti Walikota

MATAMALUT.COM, TERNATE – Graffiti sudah ada sejak jaman purba, berupa coretan coretan biasa di dinding. Kemudian graffiti terus berkembang di jaman Mesir Kuno dan Romawi (wadezig: 2014). Akan sangat panjang jika kita membahas sejarah graffiti secara lengkap.

Graffiti merupakan suatu budaya populer yang kini semakin berkembang dan menjadi suatu budaya yang digemari oleh kaum muda terutama di perkotaan. Graffiti saat ini memenuhi dan mengisi ruang-ruang perkotaan dengan berbagai bentuk seni rupa baik tulisan maupun gambar. Dalam sejarahnya garffiti digunakan sebagai bentuk protes, propaganda maupun sebagai media eksistensi. Di beberapa negara seperti Amerika, graffiti sering digunakan untuk menandakan daerah kekuasaan antar geng, juga sebagai bentuk protes dan anti kemapanan. Graffiti juga berkembang pada masyarakat modern sebagai budaya populer yang berkembang bersamaan dengan musik, gaya hidup dan seni rupa.

Di Indonesia sendiri graffiti telah berkembang sejak masa kemerdekaan sebagai bentuk propaganda politik. Graffiti dibuat di sepanjang jalan, tembok, dan kereta sebagai pesan kepada publik. Namun graffiti tidaklah sepenuhnya dianggap sebagai perilaku yang merugikan, karena beberapa hasil positif turut berguna bagi seorang pembuat graffiti maupun khalayak yang melihat graffiti tersebut. Graffiti tidak lepas dari motif-motif yang timbul dari ideologi, budaya dan komunikasi yang menjadi dasar para pembuat graffiti. Pada akhirnya graffiti sendiri adalah media komunikasi yang ditulis dengan lambang dan simbol komunikasi tertentu yang memiliki pesan terhadap khalayak, dan kemudian menunjukan eksistensi identitas sang pembuat graffiti tersebut.

Penelitian ini menggunakan graffiti Koma dalam karakter Buto, yang melambangkan propaganda terhadap karakter asing dan menggambarkan kondisi sifat manusia yang cenderung memiliki perilaku jahat dan negatif. Pada akhirnya graffiti merupakan lambang komunikasi dan eksistensi sang pembuat graffiti.

Sebagai mahluk sosial manusia senantiasa ingin berhubungan dengan manusia lainnya. Ia ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ingin tahu apa yang terjadi di dalam dirinya. Rasa ingin tahu akan segala hal membuat manusia melakukan proses komunikasi.

Secara harfiah, komunikasi merupakan suatu proses pertukaran pesan, ide maupun lambang-lambang dari komunikator kepada komunikan, baik melalui lisan (verbal) ataupun melalui lambang-lambang (non verbal).

Ketika seseorang sedang berbicara kepada orang lain sesungguhnya orang tersebut telah melafalkan beberapa lambang bunyi yang arti dan maknanya telah disepakati bersama. Dalam konteks ini, lambang dan bunyi divisualkan dalam bentuk simbol-simbol yang dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat dibaca dan dimengerti maksudnya. Di satu sisi komunikasi verbal maupun non verbal memiliki nilai. Bila dilihat dalam perspektif komunikasi, merupakan satu saluran yang memiliki nilai estetika, baik yang sifatnya tersurat maupun tersirat.

Penulis juga bertujuan untuk mengubah pandangan dan pengetahuan masyarakat terhadap seni mural jalanan yang disebut graffiti. Penulis ingin menunjukan kepada pembaca melaui tulisan ini bahwa kegiatan menggambar dan menulis menggunakan cat kaleng / semprot pada dinding dan tembok jalanan bukanlah bertujuan untuk merusak atau mengotori area tersebut namun para seniman graffiti atau yang disebut bomber memiliki tujuan lain yang merupakan hal-hal positif dan pada akhirnya juga berdampak bagi sang seniman dan khalayak si penerima pesan yang ikut melihat hasil karyanya baik berupa gambar mural ataupun tulisan yang dibuat.. Maka melalui pemahaman inilah penulis ingin menunjukan arti dan manfaat lain dalam kegiatan graffiti sehingga mampu mengubah pandangan umum yang negatif bagi seni jalanan / graffiti tersebut. Katherine Miller (2005),

Terkait dengan pemahaman di atas yang akhir-akhir ini marak coretan di dinding jalanan yang berslogan #2024 GANTI WALIKOTA” Graffiti atau alat propaganda, atau bentuk protes ketidak puasan masyarakat atas kinerja atau kebijakan Walikota yang kepemimpinannya sudah menginjak satu tahun. Tidak mudah memang kepemimpinannya bapak Dr. Tauhid Solemen dan Jasri sebagai walikota ternate saat dilantik APBD yang sudah di tetapkan oleh Walikota sebelumnya yang harus dijalankan, selain itu pandemi covid 19 menjadi titik fokus penanganan pemerintah pusat hingga melakukan kebijakan Refocusing anggaran yang sudah tentu Kepala Daerah harus menyesuaikan penyususnan Anggaran Daerah.

Tenang tidak panik dalam menanggapi tagar diatas, nampak pada momen Ramadhan 1443 H kemarin dalam giat safari Ramadhan Walikota di berbagi tempat menyampaikan apa yang sudah dilakukan dan apa yang belum, kami berdua (Tauhid & Jasri) sudah banyak melakukan namun juga kami mengakui belum maksimal. Dalam kesempatan itu walikota mengajak masyarakat untuk bersabar. Juga, walikota membuka diri menerima masukan saran ataupun kritik untuk bersama-sama membangun Kota Ternate.

Oleh : ICHKLAS. P
Direktur Yayasan Kimalaha Kie Segam

Artikel ini telah dibaca 135 kali

badge-check

Editorial Team